SANGGAU, Kabar Kita — Kebakaran menghanguskan dua unit rumah toko di Dusun Bahta, Desa Bahta, Kecamatan Bonti, Kabupaten Sanggau, Minggu pagi, 8 Februari 2026. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp800 juta.
Ruko yang terbakar diketahui milik Karnaen, 47 tahun. Bangunan itu digunakan sebagai kios Pertalite, pangkas rambut, dan toko sembako. Asap pertama kali terlihat sekitar pukul 08.00 WIB dari bagian bawah bangunan. Dalam waktu singkat, kobaran api membesar dan merambat ke bangunan di sebelahnya.
Dua warga yang berada di lokasi, Diki Kurniawan dan Sopian, sempat berupaya memadamkan api dengan peralatan seadanya sekitar pukul 08.15 WIB. Namun api cepat membesar, diduga karena di dalam ruko tersimpan bahan mudah terbakar, termasuk Pertalite dan tabung gas LPG.
Warga kemudian bergotong royong menggunakan mesin pompa air untuk menyedot air dari sungai terdekat sebagai upaya pemadaman darurat. Keterbatasan sarana pemadam kebakaran di lokasi membuat proses penanganan berlangsung cukup lama.
Api baru berhasil dipadamkan sepenuhnya sekitar pukul 10.30 WIB setelah lebih dari dua jam upaya pemadaman. Saat api berhasil dijinakkan, sebagian besar bangunan telah hangus terbakar.
Kapolsek Bonti Iptu Erpan Yudi Asmara mengatakan, berdasarkan pemeriksaan awal dan keterangan saksi, sumber api diduga berasal dari korsleting listrik di bagian lantai ruko. “Diduga terjadi hubungan arus pendek yang memicu percikan dan menyambar material mudah terbakar,” ujar Erpan saat dikonfirmasi.
Meski demikian, kepolisian masih berkoordinasi dengan Tim Identifikasi Sat Reskrim Polres Sanggau untuk memastikan penyebab pasti kebakaran.
Erpan menambahkan, keberadaan bahan bakar dan tabung gas di dalam ruko diduga mempercepat penyebaran api pada fase awal kejadian. Polisi memastikan situasi di sekitar lokasi tetap kondusif setelah peristiwa tersebut.
Kepolisian mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap instalasi listrik, terutama pada bangunan yang menyimpan bahan mudah terbakar. Pemeriksaan instalasi secara berkala dan penggunaan tenaga profesional dinilai penting untuk mencegah kejadian serupa.
(Dk)
