Lebaran Hari Kedua, Warga Sanggau Masih Antre BBM Berjam-jam

Lebaran Hari Kedua, Warga Sanggau Masih Antre BBM Berjam-jam

SANGGAU, Kabar Kita — Antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Sanggau masih memadati area pengisian pada hari kedua Idul Fitri 1447 Hijriah, Minggu, 22 Maret 2026. Kondisi ini terlihat di tiga SPBU utama, termasuk SPBU Bunut, dengan dominasi antrean kendaraan roda dua dan roda empat yang mengantre untuk mendapatkan BBM jenis pertalite.

Lonjakan antrean ini tidak semata dipicu meningkatnya mobilitas masyarakat saat Lebaran, tetapi juga diperparah oleh kosongnya pasokan BBM di kios-kios eceran. Sejumlah kios BBM di pinggir jalan dan perkampungan dilaporkan tidak lagi memiliki stok pertalite setelah pembelian dalam jumlah besar dibatasi oleh pihak SPBU, dengan alasan mencegah praktik penimbunan.

Akibatnya, masyarakat yang sebelumnya mengandalkan kios eceran kini tidak memiliki alternatif selain mengisi BBM langsung di SPBU. Kondisi ini memicu penumpukan kendaraan dan antrean panjang yang sulit dihindari.

Budi, warga Sanggau, mengaku kesal dengan situasi tersebut. Ia menilai tidak ada langkah konkret dari pemerintah daerah maupun pihak terkait untuk mengurai persoalan yang terjadi di lapangan.

“Katanya stok pertalite aman, tapi kenyataannya antrean di SPBU masih panjang. Harusnya ada solusi dari pemerintah maupun pengelola SPBU,” ujar Budi.

Menurut dia, dalam beberapa hari terakhir masyarakat kesulitan mendapatkan pertalite, terlebih pada momentum Lebaran ketika kebutuhan bahan bakar meningkat seiring tingginya aktivitas perjalanan.

Budi juga menyoroti hilangnya peran kios BBM eceran sebagai penyangga distribusi. Ia menilai, jika kios masih memiliki stok, antrean panjang di SPBU bisa diminimalisir.

“Kalau kios masih jual, orang tidak perlu antre panjang di SPBU. Sekarang tidak ada pilihan lain,” katanya.

Sejumlah warga berpendapat, penjualan pertalite di kios eceran selama ini justru membantu masyarakat kecil, terutama pengguna sepeda motor di wilayah perkampungan. Mereka menilai kebijakan pembatasan pembelian perlu dikaji ulang agar tidak menimbulkan dampak lanjutan di tingkat masyarakat.

Di sisi lain, warga menilai pengawasan seharusnya lebih difokuskan pada potensi penyalahgunaan BBM jenis solar bersubsidi, yang rawan diselewengkan untuk kepentingan industri atau aktivitas ilegal seperti pertambangan tanpa izin (PETI), dibandingkan membatasi distribusi pertalite yang banyak digunakan masyarakat umum.

Hingga berita ini diturunkan, antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Kota Sanggau masih terlihat mengular, menandakan persoalan distribusi BBM di tingkat lapangan belum sepenuhnya teratasi meski pasokan secara umum disebut dalam kondisi aman.

(Nanda)


Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *