HMI 79 Tahun, Sejarah Panjang dan Ujian Konsistensi

HMI 79 Tahun, Sejarah Panjang dan Ujian Konsistensi
Oplus_131072

PONTIANAK, Kabar Kita — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memperingati Dies Natalis ke-79 pada Rabu, 5 Februari 2026. Peringatan ini menjadi penanda perjalanan panjang organisasi mahasiswa yang sejak awal berdiri menempatkan keislaman dan keindonesiaan sebagai dua poros perjuangan.

HMI didirikan pada 5 Februari 1947 oleh Prof. Dr. H. Lafran Pane, di tengah situasi Indonesia yang masih bergulat mempertahankan kemerdekaan. Tanggal tersebut beririsan dengan kelahiran Lafran Pane pada 5 Februari 1922—sebuah penanda historis yang kemudian melekat kuat dalam identitas organisasi.

Selama hampir delapan dekade, HMI mengalami berbagai fase penting sejarah bangsa, mulai dari masa revolusi, pembangunan nasional, hingga era demokrasi dan transformasi digital. Dalam lintasan waktu itu, HMI konsisten memosisikan diri sebagai ruang kaderisasi intelektual dan kepemimpinan, sekaligus mitra kritis kekuasaan.

Tema peringatan tahun ini, Khidmat HMI untuk Indonesia, menegaskan orientasi pengabdian organisasi. Bagi kader, Dies Natalis tidak semata dimaknai sebagai perayaan, melainkan momentum evaluasi atas sejauh mana nilai-nilai yang diwariskan Lafran Pane tetap relevan dan diwujudkan dalam praksis sosial.

Instruktur HMI Kalimantan Barat, Syaiful, menilai peringatan Dies Natalis menjadi pengingat bahwa HMI lahir bukan untuk kepentingan kelompok sempit. “HMI sejak awal dibangun sebagai ikhtiar menjaga nilai keislaman sekaligus komitmen kebangsaan,” ujarnya.

Ia menyebutkan, tantangan zaman yang kian kompleks menuntut kader HMI untuk tidak berhenti pada romantisme sejarah. Warisan Lafran Pane, menurutnya, justru harus diterjemahkan dalam sikap kritis, keberpihakan pada keadilan, serta keterlibatan aktif dalam menjawab persoalan masyarakat.

Memasuki usia ke-79, HMI kembali dihadapkan pada pertanyaan mendasar: sejauh mana organisasi ini mampu menjaga marwahnya sebagai kekuatan moral dan intelektual. Jawaban atas pertanyaan itu, kata Syaiful, tidak terletak pada seremoni, melainkan pada konsistensi kader dalam merawat nilai dan tanggung jawab sosial.

(Bb)


Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *